Judul : Iqra’!
Penulis : Reza Nufa
Penerbit: Diva Press
ISBN : 978-602-978-907-2
Tebal : 370 halaman
Alam adalah tempat belajar yang paling luas. Dari alam dan lingkungan sekitar kita dapat mempelajari hal-hal lain yang tidak diajarkan di bangku sekolah manapun. Novel Iqra’! adalah novel debut seorang penulis muda yang bernama Reza Nufa. Novel yang bercerita tentang tokoh Asep dan kehidupan serta cara pandangnya melihat alam dan lingkungan.
Asep adalah seorang pemuda yang lahir disebuah desa kecil dan hidup dengan Nenek Aminah, neneknya yang sangat bijak dan dia sayangi. Berkat bimbingan Nenek Aminah ini Asep tumbuh menjadi seorang pemuda yang kritis dan peduli akan lingkungan. Nenek Aminah sering memberi nasehat kepada Asep, yang nantinya nasehat-nasehat itu akan dapat membuat Asep menjadi lebih bijak dan cerdas dalam menjalani hidupnya.
“Dalam tubuhmu itu, ada jiwa. Perasaan itu bersumber dari jiwa. Jiwa itulah yang membuat hatimu bisa menyadari baik dan buruk. Jadi, tetap ada hubungannya dengan hati yang kamu sebut tadi. Hati itu adalah rumahnya perasaan.” (Hal 16)
“Nak, alam itu sudah terikat dengan aturannya sendiri. Mereka tidak punya akal namun mereka tidak akan salah dan tidak boleh disalahkan.” (Hal 99)
Asep yang tumbuh dewasa melanjutkan sekolahnya di kota. Dia hidup bersama Kang Jalal yang merupakan kenalan dekat Nenek Aminah. Asep disekolahkan oleh Kang Jalal, dia satu sekolah dengan anak perempuan Kang Jalal, yaitu Nisa. Selama sekolah dan tinggal dikota, Asep semakin banyak melihat problematika kehidupan. Wawasan dirinya terus bertambah dan semakin kritis terhadap fenomena yang terjadi. Maka dari itu dia menuliskan semua unek-unek pikirannya di sebuah buku, yang nanti diberi judul IKRO. Melalui buku itu, Asep bercerita banyak tentang apa saja yang ada di dalam benaknya ; tentang kehidupan masyarakat, fenomena perbedaan agama, tentang lingkungan, tentang dirinya menyikapi perasaan cinta dan hal lainnya.
Di novel ini, terdapat banyak sekali pesan moral yang dapat dipetik. Banyak sekali makna yang dapat diambil dengan membaca novel ini. Hampir disetiap bab yang ditulis oleh Reza Nufa, selalu ada quotes-quotes yang mengajak pembaca memikirkan kembali apa yang telah kita lakukan selama ini. Novel ini juga seolah menjadi cermin dari sudut pandang kita memandang lingkungan sekitar.
“Ada banyak sekali. mereka mengkotak-kotakkan diri. Mereka saling membiarkan, mereka tidak saling bersatu.” (hal 212)
”Ada banyak gerombolan manusia primitif di bangsa ini, bahkan mereka yang mengaku elit.”
Novel Iqra’! adalah sebuah novel yang menginstrepretasikan pemikiran Reza Nufa yang dituangkan dalam tokoh Asep, sebagai kritik sosial secara tidak langsung. Novel ini merupakan curahan hati secara tidak langsung dari Reza Nufa yang miris akan apa yang terjadi kepada bangsanya. Melalui novel ini, pembaca akan secara tidak langsung akan menyelami pemikiran-pemikira yang dipikirkan oleh penulis dan orang-orang secara umumnya.
Pesan yang cukup kuat dalam novel Iqra’! ini menjadi kekuatan utama dalam novel ini. Penggunaan kalimat-kalimat metafora yang penulis gunakan dalam novel ini, semakin menambah warna tersendiri saat membaca novel ini. Penulis juga sering menggunakan analogi-analogi dalam percakapan binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya sebagai contoh kasus.
“Itulah binatang, Nak. Mereka tidak punya akal. Gara-gara semut yang satu tidak ada antenanya jadi dianggap berbeda oleh semut yang lain.” (Hal 15)
Walaupun secara materi, novel ini memiliki nilai yang sangat bagus. Namun novel ini memiliki kekurangan, yaitu dalam hal narasi. Narasi yang dituliskan dalam novel Iqra’! ini sedikit bertele-tele yang bisa membuat pembaca sedikit bosan. Dan tempo yang digunakan oleh Reza Nufa dalam novel ini juga tidak stabil. Terkadang dalam satu bab tempo yang digunakan lambat, bahkan sangat lambat. Namun, di bab lainnya tempo yang hadir di bab tersebut sangat cepat.
Diluar kekurangan yang ada di novel Iqra’! ini, novel ini tetap merupakan novel yang sangat bagus dan ‘berbobot’. Banyak sekali nilai dan pesan moral yang dapat dipetik setelah membaca novel ini. Membaca novel ini, pembaca dapat merenung, tertawa, tersenyum dan bahkan menangis.
Jumat, 16 Desember 2011
Resensi Novel : Once Upon A Love
Judul : Once Upon A Love
Penulis : Aditia Yudis
Penerbit: GagasMedia
ISBN : 979-780-518-2
Tebal : 192 halaman
“Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu. Kau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang seharusnya kusimpan dalam kotak dan kubuang jauh-jauh.”
Kalimat di atas adalah kalimat yang mewakili jiwa dari novel Once Upon A Love. Novel kedua karya Aditia Yudis yang bercerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Novel ini mengisahkan keteguhan Lolita yang jatuh cinta kepada Ferio, seorang yang dikenal oleh Lolita di sebuah komunitas menulis dan menjadi mentor serta senior bagi Lolita di komunitas tersebut. Ferio yang bersikap baik dan ramah kepada Lolita dengan memberikan arahan-arahan dan masukan atas tulisan-tulisan Lolita, mampu membuat perempuan itu jatuh hati kepada seniornya. Walaupun mereka belum pernah bertemu sama sekali dalam dunia nyata.
Pertemuan pertama antara Lolita dan Ferio terjadi di sebuah gathering nasional komunitas menulis yang mereka ikuti. Lolita menyangka pertemuannya akan berlangsung dengan indah, namun kenyataan yang didapatkannya adalah bahwa Ferio datang bersama perempuan lain, yaitu Drupadi yang merupakan sahabat perempuannya yang sangat dengan Ferio. Dimanapun ada Drupadi, disana pasti ada Ferio.
Hubungan yang sangat dekat antara Ferio dan Drupadi tidak membuat cinta Lolita kepada Ferio surut. Dengan semua perasaan yang dimilikinya kepada Ferio, Lolita menjadikannya sebagai ide novel miliknya dan menuangkannya semuanya disana.
Dua tahun berjalan semenjak pertemuan pertama dengan Ferio dan Drupadi, Lolita menerbitkan novel terbarunya yang berjudul Inspirasi, novel yang merupakan curahan isi hati Lolita kepada Ferio. Novel tersebut merupakan ungkapan cinta secara tidak langsung dari Lolita kepada Ferio. Walau dua tahun sudah berlalu sejak pertemuan pertama mereka, Lolita masih mencintai Ferio. Dia masih menjaga dengan baik perasaannya kepada lelaki itu.
Cinta yang awalnya dipertahankan oleh Lolita sedemikian tahun, dengan harapan waktu dapat membuat hati sang Ferio berpaling kepadanya. Namun Lolita harus mendapat kenyataan bahwa dahsyatnya Sang Waktu tidak dapat menggeser posisi Drupadi–perempuan yang menjadi sahabat serta orang yang paling disayang oleh Ferio–dari dalam hati lelaki pujaannya itu.
Setelah dua tahun lamanya, Lolita kembali bertemu dengan Ferio dan Drupadi dalam keadaan yang sangat berbeda dari pertemuan sebelumnya. Tidak ada lagi Ferio yang selalu menempel kepada Drupadi. Lolita yang awalnya percaya bahwa dia sangat mengenal Ferio menyadari bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak mengenal Ferio. Ada kisah kelam yang dialami oleh Ferio dan hanya Drupadi yang mengetahui hal itu. Lolita juga tidak tahu sebelumnya bahwa Drupadi dan Ferio putus komunikasi selama hampir dua tahun. Lolita menyadari banyak hal yang tidak dia ketahui mengenai lelaki pujaannya itu.
Penggambaran kuat deskripsi suasana dan latar tempat yang Aditia Yudis buat dalam novel ini membuat pembaca tidak kesulitan untuk membayangkan isi cerita.
“Hujan sudah berhenti, tinggal tersisa rintik-rintik. Namun, awan-awan hitam itu belum sepenuhnya terusir pergi.”
Pilihan kata dan rangkaian kalimat yang penulis buat, semakin menambah nyaman suasana saat membaca novel ini, sehingga membuat novel ini sangat mengalir saat dibaca dan tidak membosankan. Penggambaran karakter tokoh yang kuat dan konsisten juga menjadi nilai lebih yang disajikan oleh penulis, yang menjadikan setiap karakter yang ada di dalam novel ini terasa sangat hidup.
Walau memiliki kekuatan deskripsi dan penggambaran tokoh yang kuat, novel ini masih memiliki celah. Ending cerita yang dibuat oleh Aditia Yudis sudah bisa ditebak sejak awal. Bahwa Lolita tidak akan mendapatkan cinta dari Ferio. Begitu pun dengan Ferio yang tidak bisa menjadikan Drupadi sebagai kekasihnya. Mereka bertiga hanya memeluk cintanya masing-masing tanpa saling memiliki.
Terlepas dari mudah ditebaknya ending yang dibuat, novel Once Upon A Love ini memiliki kekuatan cerita yang bagus dan mengalir. Sebuah kisah dari kegigihan seorang perempuan terhadap apa yang dia cintai dan kisah tentang teguh serta konsistennya seorang lelaki yang jatuh cinta kepada seseorang yang tidak akan pernah bisa dimiliki.
Penulis : Aditia Yudis
Penerbit: GagasMedia
ISBN : 979-780-518-2
Tebal : 192 halaman
“Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu. Kau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang seharusnya kusimpan dalam kotak dan kubuang jauh-jauh.”
Kalimat di atas adalah kalimat yang mewakili jiwa dari novel Once Upon A Love. Novel kedua karya Aditia Yudis yang bercerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Novel ini mengisahkan keteguhan Lolita yang jatuh cinta kepada Ferio, seorang yang dikenal oleh Lolita di sebuah komunitas menulis dan menjadi mentor serta senior bagi Lolita di komunitas tersebut. Ferio yang bersikap baik dan ramah kepada Lolita dengan memberikan arahan-arahan dan masukan atas tulisan-tulisan Lolita, mampu membuat perempuan itu jatuh hati kepada seniornya. Walaupun mereka belum pernah bertemu sama sekali dalam dunia nyata.
Pertemuan pertama antara Lolita dan Ferio terjadi di sebuah gathering nasional komunitas menulis yang mereka ikuti. Lolita menyangka pertemuannya akan berlangsung dengan indah, namun kenyataan yang didapatkannya adalah bahwa Ferio datang bersama perempuan lain, yaitu Drupadi yang merupakan sahabat perempuannya yang sangat dengan Ferio. Dimanapun ada Drupadi, disana pasti ada Ferio.
Hubungan yang sangat dekat antara Ferio dan Drupadi tidak membuat cinta Lolita kepada Ferio surut. Dengan semua perasaan yang dimilikinya kepada Ferio, Lolita menjadikannya sebagai ide novel miliknya dan menuangkannya semuanya disana.
Dua tahun berjalan semenjak pertemuan pertama dengan Ferio dan Drupadi, Lolita menerbitkan novel terbarunya yang berjudul Inspirasi, novel yang merupakan curahan isi hati Lolita kepada Ferio. Novel tersebut merupakan ungkapan cinta secara tidak langsung dari Lolita kepada Ferio. Walau dua tahun sudah berlalu sejak pertemuan pertama mereka, Lolita masih mencintai Ferio. Dia masih menjaga dengan baik perasaannya kepada lelaki itu.
Cinta yang awalnya dipertahankan oleh Lolita sedemikian tahun, dengan harapan waktu dapat membuat hati sang Ferio berpaling kepadanya. Namun Lolita harus mendapat kenyataan bahwa dahsyatnya Sang Waktu tidak dapat menggeser posisi Drupadi–perempuan yang menjadi sahabat serta orang yang paling disayang oleh Ferio–dari dalam hati lelaki pujaannya itu.
Setelah dua tahun lamanya, Lolita kembali bertemu dengan Ferio dan Drupadi dalam keadaan yang sangat berbeda dari pertemuan sebelumnya. Tidak ada lagi Ferio yang selalu menempel kepada Drupadi. Lolita yang awalnya percaya bahwa dia sangat mengenal Ferio menyadari bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak mengenal Ferio. Ada kisah kelam yang dialami oleh Ferio dan hanya Drupadi yang mengetahui hal itu. Lolita juga tidak tahu sebelumnya bahwa Drupadi dan Ferio putus komunikasi selama hampir dua tahun. Lolita menyadari banyak hal yang tidak dia ketahui mengenai lelaki pujaannya itu.
Penggambaran kuat deskripsi suasana dan latar tempat yang Aditia Yudis buat dalam novel ini membuat pembaca tidak kesulitan untuk membayangkan isi cerita.
“Hujan sudah berhenti, tinggal tersisa rintik-rintik. Namun, awan-awan hitam itu belum sepenuhnya terusir pergi.”
Pilihan kata dan rangkaian kalimat yang penulis buat, semakin menambah nyaman suasana saat membaca novel ini, sehingga membuat novel ini sangat mengalir saat dibaca dan tidak membosankan. Penggambaran karakter tokoh yang kuat dan konsisten juga menjadi nilai lebih yang disajikan oleh penulis, yang menjadikan setiap karakter yang ada di dalam novel ini terasa sangat hidup.
Walau memiliki kekuatan deskripsi dan penggambaran tokoh yang kuat, novel ini masih memiliki celah. Ending cerita yang dibuat oleh Aditia Yudis sudah bisa ditebak sejak awal. Bahwa Lolita tidak akan mendapatkan cinta dari Ferio. Begitu pun dengan Ferio yang tidak bisa menjadikan Drupadi sebagai kekasihnya. Mereka bertiga hanya memeluk cintanya masing-masing tanpa saling memiliki.
Terlepas dari mudah ditebaknya ending yang dibuat, novel Once Upon A Love ini memiliki kekuatan cerita yang bagus dan mengalir. Sebuah kisah dari kegigihan seorang perempuan terhadap apa yang dia cintai dan kisah tentang teguh serta konsistennya seorang lelaki yang jatuh cinta kepada seseorang yang tidak akan pernah bisa dimiliki.
Langganan:
Postingan (Atom)

