Judul : Kimi Wo Shinjiteru (Believe In You)
Penulis : Rina Shu
Penerbit : Dive Press
ISBN : 978-602-191-221-8
Tebal : 351 halaman
Tidak ada yang sempurna, yang ada hanya saling menyempurnakan. Rasa saling percaya yang diamini oleh hati menjadi pintu pertama untuk saling melengkapi satu sama lain. Ketika rasa percaya itu hilang, akan ada sebuah trauma besar di dalam hati. Sebuah ketakutan akan hal sama akan terjadi kembali ; penghianatan.
Kiwi Wo Shinjiteru adalah novel debut dari Rina Hapsarina yang memakai nama pena Rina Shu. Sebuah novel yang bercerita tentang Shira seorang gadis yang tidak sempurna dalam segi fisik, karena dia menderita polio di salah satu kakinya sehingga mengharuskannya untuk menggunakan sepatu khusus penyandang polio. Masa lalu asmara yang pahit, sebuah penghianatan dari lelaki yang dicintainya, Yuza. Sebuah penghianatan terhadap rasa percaya yang telah diberikan oleh hatinya, membuat Shira tidak percaya lagi oleh sebuah rasa cinta. Hal yang membuat hatinya trauma untuk menerima kehadiran lelaki lain di dalam hidupnya.
Shira yang tidak sempurna dalam fisik dapat beraktifitas normal seperti biasa berkat sepatu khususnya. Dia bekerja sebagai jurnalis musik di sebuah majalah. Kehidupannya yang perlahan berangsur normal paska keterpurukannya ditinggal menikah oleh Yuza harus kembali mengalami gejolak. Kehadiran Reiga, seorang fotografer baru di kantornya, membuat hatinya kembali jatuh bangun. Dalam hatinya Shira mengakui bahwa dirinya terpikat oleh Reiga, namun logika dengan keras menolak semua pernyataan cinta yang Reiga berikan. Luka yang pernah ada masih terasa. Trauma masih membayang jelas di hatinya. Sebuah rasa percaya menjadi sangat mahak harganya.
Dalam menghadapi segala masalahnya, putus dengan Yuza, Reiga yang mendekatinya, dan Alena yang ternyata menyukai Reiga sejak lama, Shira selalu bersandar pada Rana, sahabat terbaiknya. Seorang wanita penyandang Muscular Distrophy, namun Rana tidak dapat berjalan sendiri, dia harus duduk di kursi roda. Rana adalah tempat Shira bersandar, tempat Shira mencurahkan semua keluh kesah hatinya dan tempatnya bercerita tentang segala gundah hati yang dirasakannya.
Secara garis besar, Kimi Wo Shinjiteru berkisah tentang jatuh bangunnya hati seorang wanita. Wanita tidak sempurna yang takut untuk membuka hatinya dan mempercayakannya lagi pada lelaki lain, semenjak kisah kelam yang dialaminya. Kisah tentang kuatnya persahabatan antara Shira dan Rana. Dalamnya jalinan persahabatan di antara mereka. Kisah tentang hancurnya perasaan Shira saat Rana harus pergi akibat penyakit leukimia yang dideritanya. Kisah tentang betapa kerasnya usaha yang dilakuan Reiga untuk membuat Shira mempercayakan hatinya kepada Reiga, dan tentang indahnya kisah cinta antara Rana dan Gillian.
Penceritaan yang penulis suguhkan di novel Kimi Wo Shinjiteru ini cukup apik. Dikemas dengan gaya penceritaan yang simple, sehingga mudah untuk dicerna dan dipahami. Emosi antar kisah dan tokoh yang penulis ciptakan di novel ini sungguh mengesankan. Saya dapat merasakan emosi yang dirasakan oleh Shira, saat bahagia, kecewa, dan terutama saat Shira kehilangan sosok Rana yang selama ini menjadi setengah dari tiang penyangganya untuk tetap kuat. Kalimat-kalimat motivasi diri juga bertebaran di novel ini, sekelumit baris kata-kata yang cukup membuat saya merenung.
"... Apapun alasannya, kita ini 'cuma' wakil Tuhan. Dan, kita harus menjalankan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita dengan sebaik-baiknya." (Hal. 19)
"Tubuh manusia itu gampang beradaptasi. Yang nggak punya tangan, kaki beradaptasi menggantikan tangan. Yang bisu, tangan dengan mudah berbicara menggantikan mulut. Dan yang buta, mata hatinya yang berperan. (Hal. 149)
"Kacau atau nggak kacaunya hidup kamu, cuma kamu yang bisa putusin. Hidup itu pilihan, Ra. Cuma kamu yang bisa tentuin gimana seharusnya hidup kamu." (Hal. 183)
"Bukankah untuk merasakan kebahagiaan, kita harus merasakan sakit dulu? Itu sebabnya, kita bisa mengerti arti sebuah kebahagiaan karena kita pernah merasakan dan mengalami apa yang melukai hati dan membuat mata kita menangis." (Hal.277)
"Nggak ada sesuatu yang nggak mungkin. Menidakmungkinkan sesuatu berarti menidakmungkinkan Tuhan. (Hal. 278)
Namun, tempo cerita yang lambat di awal cerita, sedikit membuat kenyamanan dan keasikkan membaca novel ini sedikit terganggu. Terdapatnya beberapa bagian cerita yang tidak berhubungan, membuat narasi di novel ini sedikit bertele-tele.
Disamping kelebihan dan kekurangan yang terdapat di novel ini. Saya sangat mengapresiasi karya ini. Karya yang sangat memberikan saya motivasi diri. Penulis novel ini, Rina Hapsarina, merupakan penyandang Muscular Distrophy. Dia mampu menghadirkan cerita yang cukup merepresantasikan keadaan orang-orang seperti dirinya dengan sangat baik di novel ini. Novel yang menjadi pembuktian diri bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Dari hati yang terdalam, saya menyatakan kekaguman dan hormat kepada Rina Hapsarina. Dari rating 1-10, saya memberikan poin 8 untuk novel Kimi Wo Shinjiteru.
Tampilkan postingan dengan label resensi novel Diva Press. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi novel Diva Press. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Maret 2012
Jumat, 16 Desember 2011
Resensi Novel : Iqra
Judul : Iqra’!
Penulis : Reza Nufa
Penerbit: Diva Press
ISBN : 978-602-978-907-2
Tebal : 370 halaman
Alam adalah tempat belajar yang paling luas. Dari alam dan lingkungan sekitar kita dapat mempelajari hal-hal lain yang tidak diajarkan di bangku sekolah manapun. Novel Iqra’! adalah novel debut seorang penulis muda yang bernama Reza Nufa. Novel yang bercerita tentang tokoh Asep dan kehidupan serta cara pandangnya melihat alam dan lingkungan.
Asep adalah seorang pemuda yang lahir disebuah desa kecil dan hidup dengan Nenek Aminah, neneknya yang sangat bijak dan dia sayangi. Berkat bimbingan Nenek Aminah ini Asep tumbuh menjadi seorang pemuda yang kritis dan peduli akan lingkungan. Nenek Aminah sering memberi nasehat kepada Asep, yang nantinya nasehat-nasehat itu akan dapat membuat Asep menjadi lebih bijak dan cerdas dalam menjalani hidupnya.
“Dalam tubuhmu itu, ada jiwa. Perasaan itu bersumber dari jiwa. Jiwa itulah yang membuat hatimu bisa menyadari baik dan buruk. Jadi, tetap ada hubungannya dengan hati yang kamu sebut tadi. Hati itu adalah rumahnya perasaan.” (Hal 16)
“Nak, alam itu sudah terikat dengan aturannya sendiri. Mereka tidak punya akal namun mereka tidak akan salah dan tidak boleh disalahkan.” (Hal 99)
Asep yang tumbuh dewasa melanjutkan sekolahnya di kota. Dia hidup bersama Kang Jalal yang merupakan kenalan dekat Nenek Aminah. Asep disekolahkan oleh Kang Jalal, dia satu sekolah dengan anak perempuan Kang Jalal, yaitu Nisa. Selama sekolah dan tinggal dikota, Asep semakin banyak melihat problematika kehidupan. Wawasan dirinya terus bertambah dan semakin kritis terhadap fenomena yang terjadi. Maka dari itu dia menuliskan semua unek-unek pikirannya di sebuah buku, yang nanti diberi judul IKRO. Melalui buku itu, Asep bercerita banyak tentang apa saja yang ada di dalam benaknya ; tentang kehidupan masyarakat, fenomena perbedaan agama, tentang lingkungan, tentang dirinya menyikapi perasaan cinta dan hal lainnya.
Di novel ini, terdapat banyak sekali pesan moral yang dapat dipetik. Banyak sekali makna yang dapat diambil dengan membaca novel ini. Hampir disetiap bab yang ditulis oleh Reza Nufa, selalu ada quotes-quotes yang mengajak pembaca memikirkan kembali apa yang telah kita lakukan selama ini. Novel ini juga seolah menjadi cermin dari sudut pandang kita memandang lingkungan sekitar.
“Ada banyak sekali. mereka mengkotak-kotakkan diri. Mereka saling membiarkan, mereka tidak saling bersatu.” (hal 212)
”Ada banyak gerombolan manusia primitif di bangsa ini, bahkan mereka yang mengaku elit.”
Novel Iqra’! adalah sebuah novel yang menginstrepretasikan pemikiran Reza Nufa yang dituangkan dalam tokoh Asep, sebagai kritik sosial secara tidak langsung. Novel ini merupakan curahan hati secara tidak langsung dari Reza Nufa yang miris akan apa yang terjadi kepada bangsanya. Melalui novel ini, pembaca akan secara tidak langsung akan menyelami pemikiran-pemikira yang dipikirkan oleh penulis dan orang-orang secara umumnya.
Pesan yang cukup kuat dalam novel Iqra’! ini menjadi kekuatan utama dalam novel ini. Penggunaan kalimat-kalimat metafora yang penulis gunakan dalam novel ini, semakin menambah warna tersendiri saat membaca novel ini. Penulis juga sering menggunakan analogi-analogi dalam percakapan binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya sebagai contoh kasus.
“Itulah binatang, Nak. Mereka tidak punya akal. Gara-gara semut yang satu tidak ada antenanya jadi dianggap berbeda oleh semut yang lain.” (Hal 15)
Walaupun secara materi, novel ini memiliki nilai yang sangat bagus. Namun novel ini memiliki kekurangan, yaitu dalam hal narasi. Narasi yang dituliskan dalam novel Iqra’! ini sedikit bertele-tele yang bisa membuat pembaca sedikit bosan. Dan tempo yang digunakan oleh Reza Nufa dalam novel ini juga tidak stabil. Terkadang dalam satu bab tempo yang digunakan lambat, bahkan sangat lambat. Namun, di bab lainnya tempo yang hadir di bab tersebut sangat cepat.
Diluar kekurangan yang ada di novel Iqra’! ini, novel ini tetap merupakan novel yang sangat bagus dan ‘berbobot’. Banyak sekali nilai dan pesan moral yang dapat dipetik setelah membaca novel ini. Membaca novel ini, pembaca dapat merenung, tertawa, tersenyum dan bahkan menangis.
Penulis : Reza Nufa
Penerbit: Diva Press
ISBN : 978-602-978-907-2
Tebal : 370 halaman
Alam adalah tempat belajar yang paling luas. Dari alam dan lingkungan sekitar kita dapat mempelajari hal-hal lain yang tidak diajarkan di bangku sekolah manapun. Novel Iqra’! adalah novel debut seorang penulis muda yang bernama Reza Nufa. Novel yang bercerita tentang tokoh Asep dan kehidupan serta cara pandangnya melihat alam dan lingkungan.
Asep adalah seorang pemuda yang lahir disebuah desa kecil dan hidup dengan Nenek Aminah, neneknya yang sangat bijak dan dia sayangi. Berkat bimbingan Nenek Aminah ini Asep tumbuh menjadi seorang pemuda yang kritis dan peduli akan lingkungan. Nenek Aminah sering memberi nasehat kepada Asep, yang nantinya nasehat-nasehat itu akan dapat membuat Asep menjadi lebih bijak dan cerdas dalam menjalani hidupnya.
“Dalam tubuhmu itu, ada jiwa. Perasaan itu bersumber dari jiwa. Jiwa itulah yang membuat hatimu bisa menyadari baik dan buruk. Jadi, tetap ada hubungannya dengan hati yang kamu sebut tadi. Hati itu adalah rumahnya perasaan.” (Hal 16)
“Nak, alam itu sudah terikat dengan aturannya sendiri. Mereka tidak punya akal namun mereka tidak akan salah dan tidak boleh disalahkan.” (Hal 99)
Asep yang tumbuh dewasa melanjutkan sekolahnya di kota. Dia hidup bersama Kang Jalal yang merupakan kenalan dekat Nenek Aminah. Asep disekolahkan oleh Kang Jalal, dia satu sekolah dengan anak perempuan Kang Jalal, yaitu Nisa. Selama sekolah dan tinggal dikota, Asep semakin banyak melihat problematika kehidupan. Wawasan dirinya terus bertambah dan semakin kritis terhadap fenomena yang terjadi. Maka dari itu dia menuliskan semua unek-unek pikirannya di sebuah buku, yang nanti diberi judul IKRO. Melalui buku itu, Asep bercerita banyak tentang apa saja yang ada di dalam benaknya ; tentang kehidupan masyarakat, fenomena perbedaan agama, tentang lingkungan, tentang dirinya menyikapi perasaan cinta dan hal lainnya.
Di novel ini, terdapat banyak sekali pesan moral yang dapat dipetik. Banyak sekali makna yang dapat diambil dengan membaca novel ini. Hampir disetiap bab yang ditulis oleh Reza Nufa, selalu ada quotes-quotes yang mengajak pembaca memikirkan kembali apa yang telah kita lakukan selama ini. Novel ini juga seolah menjadi cermin dari sudut pandang kita memandang lingkungan sekitar.
“Ada banyak sekali. mereka mengkotak-kotakkan diri. Mereka saling membiarkan, mereka tidak saling bersatu.” (hal 212)
”Ada banyak gerombolan manusia primitif di bangsa ini, bahkan mereka yang mengaku elit.”
Novel Iqra’! adalah sebuah novel yang menginstrepretasikan pemikiran Reza Nufa yang dituangkan dalam tokoh Asep, sebagai kritik sosial secara tidak langsung. Novel ini merupakan curahan hati secara tidak langsung dari Reza Nufa yang miris akan apa yang terjadi kepada bangsanya. Melalui novel ini, pembaca akan secara tidak langsung akan menyelami pemikiran-pemikira yang dipikirkan oleh penulis dan orang-orang secara umumnya.
Pesan yang cukup kuat dalam novel Iqra’! ini menjadi kekuatan utama dalam novel ini. Penggunaan kalimat-kalimat metafora yang penulis gunakan dalam novel ini, semakin menambah warna tersendiri saat membaca novel ini. Penulis juga sering menggunakan analogi-analogi dalam percakapan binatang, tumbuhan dan makhluk lainnya sebagai contoh kasus.
“Itulah binatang, Nak. Mereka tidak punya akal. Gara-gara semut yang satu tidak ada antenanya jadi dianggap berbeda oleh semut yang lain.” (Hal 15)
Walaupun secara materi, novel ini memiliki nilai yang sangat bagus. Namun novel ini memiliki kekurangan, yaitu dalam hal narasi. Narasi yang dituliskan dalam novel Iqra’! ini sedikit bertele-tele yang bisa membuat pembaca sedikit bosan. Dan tempo yang digunakan oleh Reza Nufa dalam novel ini juga tidak stabil. Terkadang dalam satu bab tempo yang digunakan lambat, bahkan sangat lambat. Namun, di bab lainnya tempo yang hadir di bab tersebut sangat cepat.
Diluar kekurangan yang ada di novel Iqra’! ini, novel ini tetap merupakan novel yang sangat bagus dan ‘berbobot’. Banyak sekali nilai dan pesan moral yang dapat dipetik setelah membaca novel ini. Membaca novel ini, pembaca dapat merenung, tertawa, tersenyum dan bahkan menangis.
Langganan:
Postingan (Atom)

